PEDIANUSANTARA.com - Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa Hadhramaut, khususnya kota Tarim, selalu dikenal sebagai pusat keilmuan yang melahirkan ribuan ulama besar? Jawabannya bukan terletak pada kurikulum yang berubah-ubah, melainkan pada sistem pembelajaran tradisional yang telah teruji selama berabad-abad.
Di tengah gempuran pendidikan modern yang serba cepat, Hadhramaut tetap teguh mempertahankan metode klasik yang mengutamakan kedalaman, adab, dan kesinambungan sanad. Dalam artikel ini, kita akan mengupas tuntas bagaimana sistem Halaqoh dan Majelis di Hadhramaut bekerja dan mengapa model ini masih sangat relevan untuk dipelajari hari ini.
Mengenal Hadhramaut sebagai Pusat Keilmuan
Hadhramaut bukan sekadar wilayah geografis, melainkan pusat peradaban ilmu. Di kota-kota seperti Tarim, Zabid, Mukalla, hingga Sana'a, model pendidikan tradisional bukan hanya warisan masa lalu, melainkan praktik hidup yang masih eksis di masjid-masjid, rumah para ulama, hingga rubat (pesantren). Apa yang membuatnya begitu bertahan lama? Mari kita bedah dua sistematika pembelajaran di Hadhramaut yaitu sebagai berikut:
a. Sistem Halaqoh
Secara epistimologi halaqoh merupakan kegiatan belajar mengajar dengan cara para murid duduk melingkari gurunya yang bersandar di tembok atau tiang-tiang masjid, kemudian berhalaqoh mereka dihadapan sang guru sambil membentuk lingkaran. (Ibnu Jum'ah, kitab Tadzkirot al-Sami' hal. 165.)
Sistem ini bermula sejak zaman Rasulullah SAW yang mana sahabat Anas r.a berhalaqoh dihadapan Rasulullah untuk mengaji Qur'an dan belajar hal-hal wajib dan sunnah. (Kitab Majma' al-Zawaid Wa Mamba' al-Fawaidz juz.1 hal.137.)
Murid yang belajar di halaqoh ini beragam, ada yang istiqomah tidak pindah-pindah hingga sang guru wafat, adapula yang sekedar sewaktu-waktu dan berpindah dari satu halaqoh ke halaqoh lain. Adapun halaqohnya beragam, ada yang membaca Qur'an ada pula yang membaca Hadits, ada pula yang membaca kitab kuning.
Santri yang belajar di halaqoh identik memiliki sifat "Obedianisme". Maksudnya, santri dikenal dengan sikap takdhim, tawadduk, dan tarhimnya kepada guru/ pengasuh. Mereka lebih mengutamakan nilai-nilai etika dalam kehidupan sehari-hari. Seperti contoh merundukkan kepala ketika berbicara guru, berjalan dengan membungkukkan badan 90 derajat ketika di depan guru, menerima keterangan apapun yang disampaikan guru, dll. Semua itu tidak lain adalah sebagai bentuk penghormatan murid kepada gurunya.
b. Sistem Majelis
Majelis merupakan suatu sistem pembelajaran yang bersifat umum dan fleksibel. Biasanya diselenggarakan di rumah para habaib, ulama, mufti, di masjid, dan juga zawiyah. Namun, sistem ini tidak terlalu sering diterapkan di masjid sebab memiliki muatan sharing dan munadzarah atau adu argumentasi. (Jami'ul Bayan: 139)
Majelis itu sendiri terbagi menjadi beberapa bagian sesuai spesifikasi dan bidangnya yaitu:
- Majelis Tadris (pengajaran)
- Majelis Dzikir Wa Tilawat Al-Qur'a
Sistem ini diselenggarakan di masjid selama seminggu penuh, dengan membaca sepertujuh Al-Qur'an setiap harinya. Terbagi menjadi separuh dari 1/7 diwaktu antara Maghrib dan Isya', dan separuh dari 1/7 lainnya diwaktu Sahur dan setelah Subuh. Sistem ini ada sejak abad ke 5 Hijriah hingga hari ini. Tidak jarang sang guru juga mengajarkan ilmu qiro'at.
- Majelis Mauidloh Wa al-Tadzkir
Sistem ini diselenggarakan untuk umum di beberapa tempat umum guna selalu mengingatkan masyarakat untuk selalu menjaga konsistensi ibadah kita kepada Allah SWT dan menyeimbangkan kehidupan duniawi. Tak jarang majelis ini juga disesuaikan dengan momentum perayaan yang ada.
- Majelis Munadzoroh
Sistem ini diselenggarakan untuk bertukar pikiran dan sharing dalam rangka saling tolong-menolong serta take and give dalam kebenaran. Sehingga akan muncul solusi dalam kehidupan sekitar. Dalam hal ini dibimbing oleh seorang guru yang sangat compatible keilmuannya, bahkan mencapai derajat (sangat alim) dalam berbagai bidang ilmu.
- Majelis Ifta
Model ini yaitu suatu sistem yang dibimbing seorang mufti dan pakar madhab fikih, guna menjawab khusus pertanyaan dan aduan masyarakat yang berkaitan dengan hukum-hukum agama. Beberapa orang juga bertugas khusus mengumpulkan pertanyaan masyarakat. Sekaligus bagi para pemula bisa belajar kepada yang sudah senior perihal cara pencetusan fatwa.
- Majelis Sholawat Wa Ta'lim
Majelis ini merupakan majelis pembacaan sejarah Nabi yang biasanya diselenggarakan setiap Senin malam Selasa dan Kamis malam Jum'at di masjid, pesantren dan tempat umum lainnya jika ruangan tidak mencukupi. Dimulai dengan pembacaan kitab maulid (Burdah, Habsyi, Diba'iyah, Barzanji, Dliya'ul Lami', Hadiqotun Nadliroh), dll. Kemudian dilanjutkan ceramah ataupun pesan-pesan dari para da'i, guna menguatkan keimanan dan keislaman para hadirin serta memotivasi menanamkan cinta kepada Rasulullah SAW.
Jadi, sistem pembelajaran tradisional di Hadhramaut mengajarkan kita bahwa ilmu pengetahuan bukan hanya soal transfer informasi, melainkan soal penanaman nilai, adab, dan diskusi yang sehat.
