PEDIANUSANTARA.com - Tanah Air adalah sebutan bagi tempat kelahiran seseorang, seperti orang yang dilahirkan di Indonesia, maka Indonesia akan menjadi tanah airnya. Cinta tanah air merupakan suatu perasaan yang dimiliki setiap insan atas tanah kelahirannya. Hal ini sangat manusiawi sekali, bahkan Rasulullah SAW sangat mencintai kota Mekkah sebagai tempat kelahirannya dan kota Madinah sebagai kota yang menjadi tempat hijrahnya.
Kecintaan kepada tanah air dapat diwujudkan dengan berbagai cara, yang berorientasi kepada penyelamatan keamanan tanah airnya dan kemajuan di masa depan.
Tentu kita pernah mendengar sebuah Hadits tentang do'a dan kecintaan Nabi Muhammad kepada tanah airnya:
(4271) أنبأ عبيد الله بن سعد بن إبراهيم بن سعد قال حدثنا عمي قال حدثنا أبي قال حدثني صالح بن كيسان عن بن شهاب عن عروة بن الزبير عن عائشة قالت، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم اللَّهُمَّ حبب إلينا المدينة كما حببت إلينا مكة . السنن الكبرى للنسائي - (2 / 484)
Rasulullah SAW bersabda: "Ya Allah jadikanlah kami mencintai madinah sebagaimana kami mencintai Makkah."
Rasulullah SAW sangat mencintai Kota Mekkah sebagai tanah airnya, yang mana ia dilahirkan di Mekkah, diasuh oleh orang Mekkah, menghabiskan masa kecilnya di Mekkah, ayah bundanya asli penduduk Mekkah, semua sanak familinya tinggal di Mekkah, jadi sudah barang tentu Nabi sangat mencintai kota Mekkah.
Namun setelah Nabi ditugaskan dakwah kejalan Allah dengan menyebarkan agama Islam di Mekkah, maka penduduk Mekkah menjadi bringas dan tak segan-segan mengusirnya, sebagaimana yang telah kita ketahui akhirnya Nabi berhijrah ke Madinah.
Sebenarnya Nabi sangat berat meninggalkan Mekkah, hatinya tak sanggup meninggalkan tanah airnya, selain memang Nabi Muhammadlah yang seharusnya justru paling berhak menjadi penguasa Mekkah, karena beliaulah utusan pemilik Ka'bah Baitullah. Nabi pun berangkat ke Madinah bersama sahabat setianya, ia pun memulai peradaban baru dari Madinah, visi-misi Islam ia lanjutkan disana hingga Islam bisa berkembang dengan signifikan.
Dari situlah Madinah juga mengisi ruang hati Nabi Muhammad SAW, karena Kota Madinah dan penduduknya menerima Nabi dan dakwahnya, hingga Nabi berkata:
اللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا الْمَدِينَةَ كَحُبِّنَا مَكَّةَ أَوْ أَشَدَّ
"Ya Allah, jadikanlah kami mencintai Madinah sebagaimana kecintaan kami terhadap Makkah atau lebih cinta lagi."
Tentu saja cinta Nabi kepada Mekkah tidak bisa tertandingi, namun Madinah juga menjadi kota kedua yang paling dicintai Nabi. Mencintai tanah air adalah sebuah perasaan yang murni muncul sebagai fitrahnya sebagai makhluk hidup, kita tahu makhluk hidup memiliki banyak fitrah alamiah yang muncul dengan sendirinya pada setiap manusia, seperti kasih sayang ibu pada anaknya, menampakkan perlawanan untuk bertahan hidup, termasuk juga cinta kepada tanah kelahiran kita.
Indonesia adalah tanah air kita, Indonesia bumi pertiwi yang harus kita cintai dan kita jaga bersama sama. Kecintaan kepada Indonesia tidak hanya berkaitan dengan pelajaran pancasila, akan tetapi ini adalah murni ajaran agama Islam. Sebagaimana yang di katakan oleh Al-Hafidz Ibn Hajar dalam Fath Al-Bari juz 3 halaman 261, ketika mensyarahi Hadits Imam Bukhari dari sahabat Anas RA:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ فَأَبْصَرَ دَرَجَاتِ الْمَدِينَةِ أَوْضَعَ نَاقَتَهُ وَإِنْ كَانَتْ دَابَّةً حَرَّكَهَا
"Adalah Rasulullah SAW jika pulang dari bepergian dan melihat dataran tinggi kota Madinah, maka mempercepat jalan untanya dan bila menunggang hewan lain beliau memacunya."
Al-Hafidz Ibn Hajar berkata:
وَفِي الْحَدِيثِ دَلَالَة عَلَى فَضْل الْمَدِينَةِ، وَعَلَى مَشْرُوعِيَّة حُبّ الْوَطَن وَالْحَنِين إِلَيْهِ
"Dalam Hadits tersebut menunjukkan tentang keutamaanya Kota Madinah, dan disyariatkannya cinta tanah air dan rindu kepadanya."
Meskipun Makkah adalah kota para Nabi, sementara Madinah tidak mempunyai sejarah para Nabi, akan tetapi Madinah menjadi sangat istimewa sebab menerima pamungkas dan paling istimewanya para Nabi. Diriwayatkan dalam Shahih Muslim, saat Fathu Makkah (pembukaan Kota Mekkah), ketika Rasulullah masuk ke Makkah Al Mukarramah, maka orang-orang Madinah bersedih dan menangis, dan tersebar ucapan bahwa Rasulullah telah pulang ke kampung halamannya, yaitu Makkah Al Mukarramah, maka Rasulullah dikabari oleh Jibril AS akan hal ini, lalu Rasulullah berkata:
كَلَّا إِنِّي عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ هَاجَرْتُ إِلَى اللَّهِ وَإِلَيْكُمُ الْمَحْيَا مَحْيَاكُمْ وَالْمَمَاتُ مَمَاتُكُمْ
"Sungguh tidak, aku ini hamba Allah dan RasulNya, aku hijrah kepada Allah dan kepada kalian hidupku bersama kalian, dan wafatku bersama kalian."
Nabi tidak sampai hati untuk menyakiti perasaan orang Madinah yang sangat menyayangi Beliau, sehingga Beliau hanya pulang ke Makkah untuk membuka kembali Kota MAKKAH sebagai pintu ibadah bagi umat Islam dan setelah itu kembali tinggal di Madinah hingga wafatnya.
Lalu bagaimana sikap dan perilaku yang harus kita tunjukkan dalam rangka mengekspresikan bentuk cinta kita kepada Indonesia? Maka berkata Imam Muhammad bin Ali As Shodiqi As Syafii dalam kitab Dalilul Falihin juz. 1 Hal. 22:
قال بعضهم: هذا هو المراد من حديث «حب الوطن من الإيمان» أي: فينبغي لكامل الإيمان أن يعمر وطنه بالعمل الصالح والإحسان (دليل الفالحين لطرق رياض الصالحين - 1 / 22)
Berkata sebagian Ulama; "Inilah yang dimaksud dari Hadits 'cinta tanah air adalah sebagian dari iman' yaitu seyogyanya bagi orang yang sempurna imannya untuk meramaikan negaranya dengan amal sholih dan kebaikan."
Kecintaan kepada tanah air jika selalu ditanamkan dalam sanubari maka akan melahirkan perdamaian, anti kekerasan, anti penjajahan, anti atas segala sesuatu yang merusak bangsa Indonesia. Jika ada pertanyaan mengapa masih banyak kerusuhan dan kasus terorisme yang terkesan anti cinta tanah air? Jawaban saya karena dua faktor: 1) Kurangnya pengetahuan tentang anjuran cinta tanah air; 2) Karena pemahaman cinta tanah airnya yang keliru.
Oleh karena itu salah seorang ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Dr. KH. Hanif Saha Ghofur, dalam seminar nasional yang bertajuk "Bonus Demografi, Pemuda, dan Penguatan Pilar Kebangsaan," menyatakan bahwa kemajuan atau kemunduran suatu bangsa ditentukan oleh kuantitas dan kualitas pendidikan yang diterima dan diperoleh rakyatnya. Hanif yang saat itu menjadi narasumber juga menyatakan bahwa kualitas dan kuantitas sumber daya manusia (SDM) memiliki peran yang jauh lebih besar dan penting dibandingkan dengan kekayaan sumber daya alam (SDA) yang dimiliki oleh suatu negara. "Apabila SDA yang berlimpah-ruah di suatu negara tidak dikelola secara berkeadilan dan berkesinambungan oleh SDM yang profesional, terdidik dan berwawasan luas, maka keberadaan SDA itu justru akan menjadi sumber konflik, kekacauan dan disintegrasi di negara tersebut!" tegas kiai asal Probolinggo ini.
Dr. KH. Hanif Saha Ghofur juga menegaskan bahwa bonus demografi yang saat ini dialami oleh bangsa Indonesia dapat saja menjadi bencana demografi akibat sarana dan prasarana pendidikan yang tidak memadai sehingga belum mampu memenuhi kebutuhan pendidikan nasional sesuai dengan Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar (Wajardikdas) 12 Tahun. "Masih cukup banyak penduduk RI yang belum mengenyam Wajardikdas 12 tahun karena ketidakmampuan finansial. Hal ini menjadi salah satu penyebab utama tingginya angka pengangguran sehingga berdampak terhadap besarnya jumlah tenaga kerja informal dan tidak terdidik Indonesia di luar negeri," jelas beliau dalam acara seminar yang diselenggarakan di MT Haryono Square, Jakarta Timur.
Tugas kita sekarang seiring waktu kita harus tetap konsisten menjaga dan mencintai keamanan dan keutuhan NKRI ini, dan cukuplah Rasulullah SAW sebagai teladan bagi kita semua untuk mencintai tanah Air.
Penulis: Ust. Moh. Nasirul Haq, L.C
Editor: M. Yasin
Editor: M. Yasin
