Scroll untuk melanjutkan membaca

Inilah Prinsip Dakwah Ulama Kepada Pejabat

Inilah Prinsip Dakwah Ulama Kepada Pejabat

PEDIANUSANTARA.com - Sebagaimana yang kita tahu bahwa pejabat merupakan harapan penyampai aspirasi rakyat. Sebagai seorang pejabat maka seyogyanya selalu menjaga dan memperhatikan betul urusan dirinya sebagai Muslim dan sosial sebagai pejabat.

Pejabat itu ada dua, pertama yang paham ilmu sosial dan undang-undang, kedua paham ilmu-ilmu sosial serta agama. Adapun pejabat yang tidak begitu tahu urusan agama masuk dalam kategori "awam". Disinilah muncul sosok ulama yang mana ulama adalah dokter bagi penyakit-penyakit umat Islam secara keseluruhan.

Ulama dalam ilmu dakwah harus memiliki sikap dalam menghadapi pejabat yang awam. Dikatakan dalam Kitab "Dakwatut Tammah" karya Imam Abdullah Al Haddad dan juga dalam kitab Al I'tisom karya Imam Syatibi: "Hendaknya seorang ulama selalu mengajarkan perkara agama pada segenap orang awam yang mengacu kepada kehati-hatian, tidak mengajarkan rukshoh (keringanan) dan syubhat (perkara yang meragukan) serta mengajarkan tentang makna menghilangkan kebatilan."

Sebab ulama yang mengajarkan ketidakhati-hatian akan berdampak pada masyarakat yang meremehkan urusan agama, bahkan tidak sedikit yang melalaikan syariat. Sedangkan ulama itu sendiri akan tergolong ulama dunia yang bukan menjadi contoh yang baik.


Dikisahkan dari negeri Maroko dahulu terdapat seorang raja yang melanggar Syariat, yaitu bersenggama dengan permaisurinya di siang hari Bulan Ramadhan, kemudian raja ini mengumpulkan beberapa ulama yang ahli agama perihal solusinya. Maka majulah satu ulama yang paling alim dan dituakan. Sang raja berkata: "Bagaimana menurut anda mengenai masalah ini?" Sang ulama menjawab: "Anda wajib berpuasa 2 dua bulan berturut-turut!"
Kemudian setelah segenap ulama keluar istana, seorang ulama bertanya pada ulama tertua yang menjawab tadi: "Mengapa Anda fatwakan bahwa raja harus berpuasa 2 bulan? Padahal di Maroko termasuk raja bermadhab Maliki, dan madhab Maliki sendiri boleh memilih hukuman antara memerdekakan budak, berpuasa 2 bulan, dan memberi makan orang miskin?"
Ulama tertua menjawab: "Seandainya aku beri tahu bahwa ia boleh memilih, maka ia akan sangat mudah menebusnya dan akan melakukannya setiap hari. Akan tetapi aku memandang bahwa berpuasa lebih dekat pada hukuman untuknya."

Puji syukur kita masih banyak menjumpai para ulama yang ikhlas mendampingi, memberikan fatwa kepada umat Islam dengan ikhlas dan penuh kehati-hatian. Kita juga perlu meniru dan mengapresiasi kinerja para ulama salaf yang masih tegas menjaga agama Islam ini. Selain itu menunjukkan mereka tidak mengharapkan sesuatu dari para raja selain kebaikan. Hal seperti ini adalah salah satu bagian dari tarbiyah dan tarbiyah itu tetap berlaku bagi siapapun dan dalam usia berapapun.

Ketegasan seorang ulama tidak boleh dimaknai sebagai radikalisme, anti toleran dan intimidatif. Akan tetapi toleransi tidak boleh dipergunakan untuk memperalat hukum dan maslahat umat. "Wama arsalnaka Illa Rohmatan Lil Alamin."
Baca Juga
Tag:
Berita Terbaru
  • Inilah Prinsip Dakwah Ulama Kepada Pejabat
  • Inilah Prinsip Dakwah Ulama Kepada Pejabat
  • Inilah Prinsip Dakwah Ulama Kepada Pejabat
  • Inilah Prinsip Dakwah Ulama Kepada Pejabat
  • Inilah Prinsip Dakwah Ulama Kepada Pejabat
  • Inilah Prinsip Dakwah Ulama Kepada Pejabat
Posting Komentar