1. KH. Abdullah Nuh
Salah satu tokoh yang memiliki jasa besar dalam pengembangan bahasa Arab adalah KH. Abdullah Nuh dari Bogor.
- Mendirikan Yayasan Islam Center (YIC) Al Ghazaliyah Bogor.
- Pernah menjadi pimpinan Fakultas Bahasa Universitas Indonesia pada masanya.
- Menjadi tokoh pertama yang menyiarkan program berbahasa Arab di Radio RRI.
- Menulis banyak buku dan karya ilmiah di bidang bahasa Arab.
Perjuangan beliau membuktikan bahwa penguasaan bahasa asing dapat menjadi sarana dakwah sekaligus pengembangan ilmu pengetahuan.
2. KH. Moh. Yazid
Dari Kediri lahir seorang ulama yang dikenal menguasai lima bahasa, yaitu KH. Moh. Yazid.
- Menjadi guru dari Mr. Kalend Osen, pendiri BEC Pare.
- Menjadi inspirasi berkembangnya tradisi belajar bahasa yang kemudian melahirkan Kampung Inggris Pare.
- Mewariskan metode pembelajaran bahasa yang efektif kepada para muridnya.
Keberhasilan Pare sebagai pusat pembelajaran bahasa di Indonesia tidak lepas dari peran dan dedikasi beliau.
3. Al-Habib Hasan Al-Baharun
Di Pasuruan terdapat Al-Habib Hasan Al-Baharun, pengasuh Pondok Pesantren Darul Lughah Wadda'wah, Raci, Bangil.
- Mengembangkan pesantren yang fokus pada penguasaan bahasa Arab.
- Mencetak banyak da'i yang mampu berdakwah menggunakan bahasa Arab.
- Menulis berbagai kitab yang berisi materi pembelajaran bahasa Arab.
Hingga kini karya-karya beliau masih digunakan di berbagai pesantren sebagai referensi pembelajaran.
4. KH. Ahmad Warson Munawwir
Nama KH. Ahmad Warson Munawwir tentu tidak asing di kalangan santri. Beliau merupakan penyusun Kamus Al-Munawwir, salah satu kamus Arab-Indonesia paling lengkap yang masih menjadi rujukan hingga sekarang.
5. KH. Bashori Alwi
Selain itu, ada pula KH. Bashori Alwi, pengasuh Pesantren Ilmu Al-Qur'an Singosari, Malang. Meski dikenal sebagai pakar ilmu Al-Qur'an, beliau juga menghasilkan kitab Madarijul Lughah Al-'Arabiyyah yang banyak digunakan sebagai bahan ajar bahasa Arab di pesantren.
Bagi para ulama, bahasa asing bukan sekadar alat komunikasi. Penguasaan bahasa memiliki manfaat yang sangat luas, di antaranya:
- Memahami literatur Islam langsung dari sumber aslinya.
- Membuka akses terhadap ilmu pengetahuan dunia.
- Memperluas peluang dakwah hingga tingkat internasional.
- Mempersiapkan generasi Muslim agar mampu bersaing di era global tanpa kehilangan identitas keislamannya.
