PEDIANUSANTARA.com - Pernahkah Anda bertanya-tanya, mengapa harakat akhir sebuah kata dalam bahasa Arab bisa berubah-ubah, sementara sebagian kata lainnya tidak berubah? Dalam bahasa Arab (ilmu nahwu) pembahasan ini dikenal dengan istilah mu'rab dan mabni.
Apa Itu Mu'rab
Secara sederhana, Mu’rab (معرب) adalah kata yang harakat akhir bisa berubah-ubah. Perubahan ini terjadi karena adanya pengaruh dari ‘amil (faktor pemicu) yang masuk ke dalam kalimat tersebut.
Mu’rab seperti kata yang "fleksibel". Ia menyesuaikan posisinya dalam kalimat.
Contoh sederhananya coba perhatikan ata Zaid (زيد) berikut ini:
- قَامَ زَيْدٌ (Zaid telah berdiri)
- رَأَيْتُ زَيْدًا (Saya melihat zaid)
- مَرَرْتُ بِزَيْدٍ (Saya bertemu dengan Zaid)
Ketiga lafadz zaid (زيد) di atas itu berubah-rubah, ada yang dibaca rofa’ (harakat dhommah), dibaca nashob (harakat fathah) dan dibaca jar (harakat kasrah). Perubahan inilah yang disebut dengan mu’rab.
Apa itu Mabni?
Kebalikan dari Mu’rab, Mabni adalah kata yang harakat akhirnya tidak akan pernah berubah, apa pun ‘amil yang mempengaruhinya.
Kenapa sebuah kata disebut hukumi Mabni? Umumnya karena ia memiliki "kemiripan" dengan huruf. Dalam bahasa Arab, ada 4 alasan utama mengapa sebuah kata dikategorikan Mabni:
1). Wadl’iy (Serupa Bentuk)
Yaitu menyerupai bentuk kalimat huruf yang hanya terdiri dari satu huruf, seperti hamzah istifham (أ), atau dua huruf, seperti لَمْ. Jadi, setiap kalimat isim yang terdiri dari satu huruf, seperti dhomir تَ, atau dua huruf seperti dhomir نَا, maka dihukumi mabni.
2). Ma’nawiy (Serupa Makna)
Yaitu kata tersebut mempunyai makna seperti maknanya kalimat huruf. Misalnya makna istifham (pertanyaan), syarat dan isyarat. Apabila terdapat kalimat isim yang menunjukkan makna huruf, maka dihukumi mabni, seperti مَتَى yang menunjukkan makna istifham (bermakna “kapankah?”) atau syarat (bermakna “tatkala”), dan هَنَا (bermakna “disini”).
3). Isti’maliy (Serupa Penggunaan)
Yaitu penggunaan kalimat isim yang menyerupai dengan penggunaan kalimat huruf, seperti huruf-hurf jar yang bisa mengejarkan kalimat isim tetapi tidak bisa dijarkan oleh kalimat lain, maka dihukumi mabni, seperti isim fi’il yakni kalimat-kalimat isim yang menunjukkan makna kalimat fi’il, seperti lafadz آمِيْنَ yang menunjukkan makna اِسْتَجِبْ.
4). Iftiqariy (Kebutuhan)
Yaitu kata yang selalu membutuhkan kalimat lain (jumlah) untuk melengkapi maknanya, persis seperti huruf yang butuh pendamping. Misalnya isim maushul yang selalu membutuhkan jumlah sebagai shilahnya dan seperti lafadz إِذْ, إِذَا dan حَيْثُ yang wajib diidhofahkan dengan jumlah.
Isim isim yang termasuk Mabni
Agar lebih mudah mengingat, secara garis besar, kelompok isim yang tergolong Mabni itu hanya ada 6 yaitu:
- Isim dhomir (syibeh wadl’iy)
- Isim syarat (syibeh maknawiy)
- Isim istifham (syibeh maknawiy)
- Isim isyarat (syibeh maknawiy)
- Isim fi’il (syibeh isti’maliy)
- Isim maushul (syibeh iftiqariy)
Jadi, memahami Mu’rab dan Mabni adalah kunci utama agar kita tidak salah dalam membaca harakat akhir dalam bahasa Arab. Mu’rab itu fleksibel (berubah), sedangkan Mabni itu tetap (konsisten).
Demikianlah penjelasan lengkap tentang mu'rab dan mabni beserta contohnya. Semoga bermanfaat.
